Percaya Atau Tidak, Ini Eksperimen Manusia Kejam Yang Pernah Ada

Percaya Atau Tidak, Ini Eksperimen Manusia Kejam Yang Pernah Ada

Inilah daftar percobaan manusia yang luar biasa kejam. Sisi kemanusiaan sudah tak akan bisa lagi ditemukan di sini. Dari percobaan bahan kimia hingga demi sebuah kepentingan perang, nyawa menjadi sebuah barang yang murah.

Sudah tahu apa saja percobaan manusia kejam yang pernah ada? Simak beberapa daftar percobaan hitam itu di sini yuk.


1. Salah satu percobaan keji yang dilakukan terhadap manusia adalah Holocaust. Eksperimen gila Nazi selama perang dunia ke dua ini melibatkan kaum Yahudi. Pengujian bahan kimia hingga pembekuan bagian tubuh menjadi salah satu contoh jahatnya percobaan ini.


Hak Cipta: lolwot.com/abl


2. Penyakit sifilis sempat mejadi salah satu wabah penyakit mematikan. Salah satu eksperimen untuk mengatasi wabah penyakit ini adalah dengan sama sekali tak mengobatinya. Tak heran, hanya 74 orang yang selamat dari total 399 penderita pada percobaan yang dikenal dengan nama Tuskegee ini.



3. Mengendalikan pikiran mungkin terdengar aneh. Namun CIA pernah mencobanya di tahun 1975 silam. Eksperimen yang ditujukan kepada para tahanan ini mengharuskan objek percobaan menerima terapi electroconvulsive sebanyak 30 hingga 40 kali. Jumlah yang tentunya di luar akal sehat manusia.



4. Saat Afrika dilanda fenomena homoseksual, The Aversion Project diharapkan mampu mengurangi masalah sosial tersebut. Namun caranya tergolong ekstrim yaitu dengan kebiri atau kejut listrik. Pastinya, lebih banyak orang yang mati dibanding sembuh dari homoseksual.



5. Satu lagi eksperimen manusia keji dilakukan di Jepang yang bernama Unit 731. Eksperimen ini menggunakan anggota organ tubuh manusia untuk diamputasi dan disambung ke tubuh lainnya. Eksperimen ini juga memaksa para korban untuk menjadi objek percobaan dari teknologi granat dan penyembur api.



6. Percobaan selanjutnya bernama The Moster Study yang dilakukan untuk 22 anak yatim di Davenport , Iowa pada tahun 1939. Anak-anak miskin yang menjadi sasaran percobaan brutal ini mengalami beberapa masalah psikologis.



7. Untuk menguji radiasi bom atom , pemerintah Amerika menyuntikkan mikrogram plutonium ke 18 orang. Dari jumlah tersebut, hanya 5 orang yang berhasil bertahan hidup selama 20 tahun. Jumlah yang mengerikan bukan?



8. Rusia mencoba untuk mengembangkan teknologi gas beracun selama perang dunia. Percobaan mereka pun jatuh pada makanan para tahanan yang dicampur dengan ricin, mustard gas dan digitoxin.



9. Tak hanya Eropa atau Amerika saja, Korea Utara juga pernah membuat sebuah eksperimen manusia dengan membagikan kubis beracun kepada para tahanan. Bukan hanya itu saja, sebuah kamar yang dipenuhi gas beracun juga menjadi bukti kebrutalan Korea Utara di masa perang dunia kedua.



10. The Stanford prison experiment  adalah studi tentang efek psikologis dari menjadi tahanan atau penjaga. Siswa dipilih secara acak untuk memainkan peran mereka. Banyak siswa yang masuk dalam eksperimen ini mendapatkan pelecehan seksual. Hingga akhirnya percobaan ini hanya dilakukan selama enam hari saja.



Baca selengkapnya »
Kisah Pengantin yang Meninggal saat Sujud dalam Shalat

Kisah Pengantin yang Meninggal saat Sujud dalam Shalat


SERAMBINEWS.COM, RIYADH - Seorang ulama di Arab Saudi, Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad, telah membuat jutaan orang atau mungkin lebih, merasa kagum, takjub dan tersentuh dengan kisah paling inspiratif ini. Kisah yang diutarakan Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir, Arab Saudi. Video sang ustaz saat berceramah dan menceritakan kisah ini sempat diupload di Islamic Tube dan menjadi hit di Arab Saudi dan negara-negara Islam lainya. 

Banyak blogger juga merilis kisah ini dan banyak yang memberikan aspirasi kagum setelah membacanya. Serambinews.com mencoba merilis kembali kisah ini, mungkin ada yang belum membacanya. Semoga menjadi bahan renungan bersama. Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad bercerita tentang ketaqwaan seorang anak perempuan yang dalam kondisi apapun, dia tetap memilih melaksanakan shalat tepat waktu, meski dia harus menentang kemauan ibunya. 

Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad bertutur... “...Setelah melaksanakan shalat Maghrib pengantin wanita ini berhias, dia menggunakan gaun pengantin putih yang indah, dia betul-betul telah mempersiapkan dirinya untuk pesta pernikahannya. Tiba-tiba dia mendengar azan Isya sudah menggema, dia sadar kalau wudhunya telah batal. 

Dia berkata kepada ibunya, “Bu, aku mau berwudhu dan shalat Isya dulu.” 

Ibunya sangat terkejut, “Apa kamu sudah gila? Tamu sudah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.” 

Ibunya menambahkan, “Aku ini ibumu, sekarang Ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, Ibu akan marah kepadamu!” 

Lalu anaknya menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga aku shalat, ibu. Ibu harus tahu bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah!" 

Lalu ibunya menimpali, “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang dirimu ketika kamu tampil nanti dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up? Kamu pasti tidak lagi terlihat cantik di mata mereka! Mereka akan mengolok-olok dirimu !” 

Anak perempuannya itu berkata dengan tersenyum, “Apakah Ibu takut karena aku tidak terlihat cantik di mata makhluk (manusia)? Bagaimana dengan Penciptaku (Allah)? Yang aku takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, aku tidak akan tampak cantik di mata Allah.” 

Lalu, pengantin ini berwudhu, maka seluruh make-upnya terbasuh tanpa tersisa. Namun, dia tidak merasa bermasalah dengan apa yang dia lakukan. 

Kemudian pengantin ini memulai shalatnya. Pada saat dia bersujud dalam shalatnya, ternyata itulah sujudnya yang terakhir. 

Pengantin wanita ini telah meninggal dalam sujudnya dan itu adalah akhir yang indah. Wafat dengan keadaan bersujud di hadapan Pencipta-Nya. 

Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang Muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya! Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama, tutup Syaikh Abdul Muhsin Al-Ahmad.

Baca selengkapnya »
Tukang Becak yang Menggendong Bayinya Ketika Bekerja

Tukang Becak yang Menggendong Bayinya Ketika Bekerja

tukang becak menggendong bayi

Hati siapa yang tidak tersentuh melihat seorang pria menarik becak di siang hari yang panas sambil menggendong bayi? Hal ini benar-benar terjadi di India. Pria ini mengasuh bayinya karena sang istri meninggal setelah melahirkan dan tidak ada yang bersedia merawat sang bayi.
Nama pria ini adalah Bablu Jatav, 38 tahun. Dia dikaruniai seorang bayi perempuan yang diberi nama Damini setelah menikah selama 15 tahun dengan istrinya, Shanti. Pak Bablu mengatakan bahwa dia sangat senang diberkati seorang putri, tetapi dia menyimpan kesedihan mendalam karena sang istri meninggal sesaat setelah melahirkan.
“Shanti meninggal tidak lama setelah melahirkan di rumah sakit pada tanggal 20 September,” ujar pak Bablu. “Sejak saat itu, belum ada seorang pun yang mau merawat putri saya, sehingga saya yang merawatnya, bahkan pada saat saya menarik becak,” lanjutnya.
Pekerjaan pak Bablu sehari-hari adalah penarik becak di kota Bharatpur. Dia tidak memiliki saudara yang bisa merawat bayinya, sehingga jalan satu-satunya adalah merawat sang putri sambil bekerja. Pak Bablu menggendong bayinya dengan kain yang dililitkan di leher. Hal ini terpaksa dia lakukan, bahkan di tengah hari yang sangat panas.
Kondisi ini memang memprihatinkan, terutama bagi Damini yang masih sangat kecil. Panasnya matahari dan kondisi jalanan membuatnya harus dilarikan di rumah sakit Jaipur beberapa waktu yang lalu. Sang bayi mengalami septikemia, anemia dan dehidrasi akut. Untungnya, kondisi sang bayi membaik setelah dirawat.
Berita ini dengan cepat menyebar di India, sehingga banyak tawaran bantuan yang diterima oleh pak Bablu. Besar kemungkinan bahwa pemerintah India setempat sedang memproses cara untuk membantu merawat sang bayi. Semoga bantuan segera datang, sehingga bayi perempuan ini mendapat perawatan yang lebih baik.
"Teman-teman, jangan remehkan cinta seorang ayah. 
Sudahkah Anda berterima kasih pada beliau?"
Baca selengkapnya »
Kisah nyata yang mengharukan dari Tenessee Amerika Serikat

Kisah nyata yang mengharukan dari Tenessee Amerika Serikat


Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA . Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!

Mami, … aku mau nyanyi buat adik kecil! Ibunya kurang tanggap.
Mami, … aku pengen nyanyi! Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.
Mami, … aku kepengen nyanyi! Ini berulang kali dimintaMichael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.

Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya! Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi tidak boleh lebih dari lima menit!.

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya … lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “… You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey …” Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.

You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away. Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus, … terus Michael! teruskan sayang! … bisik ibunya … The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands … dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur … I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same … Sang adik kelihatan begitu tenang … sangat tenang.
Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan … adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai … lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.
Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”.

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil “Michael” untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi.

Note:
Kadang hal-hal yang menentukan, dalam diri orang lain …
Datang dari seseorang yang kita anggap lemah …
Hadir dari seseorang yang kita tidak pernah perhitungkan …

NB: Gambar diatas merupakan ilustrasi

Baca selengkapnya »
Kisah Inspiratif - Senyum Terakhir Anakku Yang Tak Ku Lupa

Kisah Inspiratif - Senyum Terakhir Anakku Yang Tak Ku Lupa

kisah inspiratif

Kisah inspiratif berikut sangat mengharukan sekali, tentang ketegaran seorang anak menghadapi penyakit yang diidapnya. Baca dan hayati kisahnya, mudah-mudahan hati kita akan semakin lembut dan penuh berbalut kasih sayang.

Berikut kisahnya :

"Bunda, puasa itu wajib ya?"

"Kata bu guru Ila, puasa itu wajib buat semua muslim," tanya Nabila sepulang sekolah. "Ila juga mau ikutan puasa ah, supaya dapat pahala dan masuk syurga," lanjutnya.

"Ila mau masuk syurga, Nda. Ila mau jumpa Allah," ia masih melanjutkan kalimat penuh antusias dari bibir mungilnya. "Kalau Ila masuk syurga, Ila bisa jumpa ayah ya, Nda? Tapi nanti siapa yang jagain Bunda?"

Aku hanya tersenyum mendengar celotehannya, seperti biasa ia akan terus berceloteh riang tanpa henti. "Iya sayang, jadi Ila juga mesti belajar puasa dari sekarang ya, supaya Allah makin sayang sama Ila," sahutku bahagia mendengar semangat putri kecilku itu.

Ketika mengantarnya tidur, ia kembali mengingatkan untuk membangunkannya saat sahur nanti. Ia berbisik di telingaku saat aku mengecup keningnya di tempat tidur, "Nda, kalau besok Ila puasa penuh, do'ain Ila cepat jumpa ama Allah ya," pintanya polos.

Deg! Ada perasaan lain menyergapku. Ah, segera kutepis rasa aneh itu. Seharusnya aku bersyukur ia tidak seperti teman-teman sebayanya yang sulit diajak belajar berpuasa. Aku mengiyakan dan hanya mengangguk dalam diam, ribuan syukur kupanjatkan padaNya karena telah menganugerahkanku seorang putri kecil yang luar biasa.

Di sepertiga terakhir malamku, kembali kutumpahkan airmata kesyukuran atas karuniaNya memberiku Nabila di sebuah episode kehidupanku. Kuhiba segunung pinta agar Dia selalu menjaganya di tiap desah nafas yang Ia berikan. Tiada lain yang kuinginkan selain menjadikan putriku seorang wanita sholehah bidadariMU di dunia.

Nabila terlihat begitu bersemangat menyantap sahurnya. Ia mengambil sayur yang biasa enggan disentuhnya tanpa kuminta. Benar-benar sahur pertama yang begitu berkesan bagiku, sama seperti sahur pertama beberapa tahun lalu saat aku merasakan berpuasa pertama dengan status baruku sebagai seorang istri dari lelaki pilihan yang dipilihkanNya.

Pagi ini, sebelum mengantar Nabila ke sekolah, kusempatkan mampir ke toko peralatan kue untuk membeli beberapa bahan yang kubutuhkan. Kuajak Nabila turun dan kugandong ia masuk ke dalam toko. Aku sibuk memilih beberapa bahan hingga tak sadar bahwa Nabila tak lagi di sampingku.

Tiba-tiba kudengar beberapa wanita menjerit dan orang-orang berlarian di luar toko. Aku tersadar Nabila tak ada di dekatku. Aku panik dan ikut berlari ke luar karena aku tak bisa menemukannya di dalam toko.

Aku berlari ke arah kerumunan orang ramai dan sesaat kurasakan bumi seolah berhenti berputar. Bumi tempatku berpijak seakan-akan menarik segenap kemampuanku tuk bergerak. Di depanku, Nabila tergeletak dengan baju seragam putihnya yang berlumuran darah.

Segera kudekap ia erat dan menggendongnya sigap. Aku dibantu beberapa orang di sekitar lokasi segera melarikan buah hatiku ke rumah sakit. Di dalam mobil kudengar orang-orang mengatakan bahwa putriku adalah korban tabrak lari.

Sungguh aku tak peduli bagaimana kejadian sebenarnya atau siapa pun pelakunya, bagiku saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa putri mungilku. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku beristighfar dan mengajak bicara putriku dan memintanya bertahan.

Nabila mengeluarkan desah-desah kecil yang berusaha kutangkap, "Nda, sakit. Kepala Ila, Nda." Jelas terlihat ia menahan sakit yang tak tertahankan.

Sekuat tenaga aku berusaha menyimpan tangisan yang sudah menyesak di dada. Aku tak boleh terlihat menangis karena itu akan membuatnya lebih sakit dan panik. Aku harus terlihat tenang agar semangatnya muncul untuk berjuang melawan sakitnya.

"Ila sabar ya sayang, kita hampir sampai ke rumah sakit. Bunda tahu anak bunda kuat, Ila harus bertahan ya sayang, Allah pasti bantu Ila supaya sembuh," ah, derai itu sulit sekali terbendung saat melihat raut wajah bidadari kecilku yang pucat menahan sakit. Darah terus mengalir dari pelipisnya.

"Nda, Allah sayang Ila kan. Allah mau kan jumpa Ila?" parau suaranya masih bisa terdengar di telingaku.

Sebuah senyuman tersungging di bibir mungilnya. Senyuman terindah yang pernah ia punya. Ah, semakin erat dekapanku seolah ia tak ingin kulepaskan lagi.

Aku seolah terseret ke peristiwa 2 tahun silam saat aku berada di posisi yang sama, mendekap seseorang yang sudah menjadikanku permaisuri di taman hatinya meregang nyawa setelah sebuah mobil menabraknya tepat di depan pintu gerbang setelah mengantarkanku ke sekolah tempatku mengajar. Masih terpahat di ingatan, senyuman terakhir yang diberikannya sore itu. Ya Rabb, kuatkan hamba.

Sampai di rumah sakit, Ila segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter memintaku untuk menunggu di depan ruang operasi karena ternyata Ila harus segera dioperasi disebabkan pendarahan hebat di kepala dan punggungnya.

Aku merasa detik demi detik merambat begitu perlahan di ruang tunggu itu. Setelah hampir 2 jam menghabiskan waktu dengan kecemasan yang sulit digambarkan di depan ruang operasi itu, akhirnya aku menyeret langkahku ke arah mushala di ujung koridor tuk mengadukan segala gundah yang kurasakan di atas sajadah cintaNya.

Setulus kalbu kupinta dan kurayu pada sang pemberi hela nafas agar Ia menyembuhkan putri kecilku. Namun di sebalik semua itu, aku hanya meminta yang terbaik dariNya untuk cahaya mataku itu, karena aku yakin apa pun yang diputuskanNya, maka itu adalah yang terbaik untuknya, untukku, dan untuk semuanya.

Aku hanya meminta Dia memberiku kekuatan melalui semua ini. Ketenangan semakin kurasakan saat lirih ayat-ayat cintaNya itu kulafadzkan lirih. Ada rasa damai yang tiba-tiba hadir menyelusup di sanubari.

Kembali ke ruang tunggu kujumpai seorang wanita separuh baya yang kurasakan juga sedang menghadapi gundah yang sama. Ah, ruang ini, bangunan ini, seakan airmata, kegelisahan, dan kecemasan tersketsa di tiap sudut rumah sakit.

Setelah hampir 4 jam menunggu dengan kecemasan yang tak tergambarkan, dokter itu ke luar dan menatapku dengan tatapan sendu. Aku hafal sekali tatapan itu, tatapan yang sama saat lelaki yang telah menjadikanku seorang ibu itu dibawa masuk ke ruang operasi, tatapan serupa saat wanita yang menjadi perantara hadirku ke dunia harus melawan maut di meja operasi itu.

Ya Allah, kupinta kekuatan dariMU. "Nda, kalau besok Ila puasa penuh, do'ain Ila cepat jumpa ama Allah ya," terdengar lagi pintanya semalam.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ...

Kulihat wajah Nabila pucat seperti kapas, namun di wajahnya senyum manis itu tak jua sirna, tak lagi kulihat sebuah derita di sana, yang tersisa hanya sebuah senyuman yang mengiringinya menghadap sang pemilik kehidupan.

Senyum yang juga diberikan ayahnya saat ia pergi meninggalkan dunia fana ini. Airmata tak lagi bisa kubendung saat kutatap lekat wajah bidadari kecilku itu, seolah ingin kupahat tiap detil wajahnya di dinding hati agar sketsa itu takkan pernah pudar tuk selamanya.

Selamat jalan, sayang. Kau pergi disaat mulia, disaat kau mulai meraba arti kehidupan di usiamu yang belia, disaat kau mulai tertatih belajar mencintaiNya, di Ramadhanmu yang pertama. Kau dapatkan kebahagiaan orang yang berpuasa, kebahagiaan akan perjumpaan denganNya.

Bunda mencintaimu, nak. Sangat, namun ternyata cintaNya padamu telah menguntum saat cinta bunda masih berputik. Bunda sadar cintaNya akan lebih bisa membuatmu bahagia. Dia jauh lebih mencintaimu, sayang.

Hingga Dia tak rela kau dibius cinta dunia, karena itu Ia ingin kau ada di sisiNya. Bunda janji, bunda akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa memelukmu lagi. Do'akan bunda, ya nak. Bunda sayang Ila, nak.

Sumber

Baca selengkapnya »
Kisah Nyata Ketulusan Cinta Luar Biasa Seorang Anak

Kisah Nyata Ketulusan Cinta Luar Biasa Seorang Anak

Kisah nyata berikut datang dari negeri Eropa, tepatnya Irlandia Utara. Kisah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, terutama yang telah menjadi orang tua agar lebih mencintai dan menyayangi anak-anaknya apaun keadaannya.

Berikut kisahnya :

Oh, Tuhan, ijinkan aku menceritakan hal ini.., sebelum ajal menjemputku...

20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergike taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah...

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica, Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun.., 2 tahun.., 5 tahun.., 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam... Malam dimana saya bermimpi tentang seorang anak... Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali... Ia melihat ke arah saya.

Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"

"Nama saya Elic, Tante."

"Eric...? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric???"

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric...

Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya disamping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.

"Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu," tapi aku akan menceritakannya juga dengan terisak-isak...

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric...

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu... Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apapun juga! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya...

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, sayapun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"

Dengan memberanikan diri, sayapun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Sayapun membaca tulisan di kertas itu...

"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan.. katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan...!!!"

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya,dosa anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.


Sumber
Baca selengkapnya »
Kisah Nyata Menyentuh - Mandikan Aku Bunda

Kisah Nyata Menyentuh - Mandikan Aku Bunda

Kisah nyata yang menyentuh kalbu, kiriman dari milis sebelah. Semoga dapat menjadi hikmah bagi kita, terutama bagi ayah dan ibu yang sibuk dengan urusan pekerjaannya.

Sebagian menganggap tugas wanita lebih sebagai manajer di rumahnya tanpa perlu dipusingkan urusan dapur dan merawat anak yang lebih pantas dilakukan oleh para bawahan, alias pembantu ataupun baby-sitter. Peran sosial dan aktualisasi diri menjadi lebih utama. Di sisi lain, tidak sedikit akhwat yang tetap “teguh” dan bangga dengan kesibukan seputar urusan dapur dan diaper ini. Mereka cukup puas dengan imbalan surga untuk jerih payahnya membenamkan muka di asap “sauna” mazola (minyak goreng) dan berparfumkan aroma popok bayi.

Saya tidak hendak membahas kekurangan dan kelebihan kedua sisi ini. Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya. Sebut saja Rani namanya. Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan. Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang “setara” dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah “alif” dan huruf terakhir “ya”, jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi. Saya pernah bertanya , ” Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal?”

Dengan sigap Rani menjawab : ” Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok.” Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya. “Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini “dapat memahami” orang tuanya.

Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya.” Alif ingin bunda mandikan.” Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan,” Bunda, mandikan Alif ” begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.

Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ” Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency”. Setengah terbang, saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Tuhan sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya. Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya, shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. “Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif.” Ucapnya lirih namun teramat pedih.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, ” Ini sudah takdir, iya kan ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ? “. Saya diam saja mendengarkan. ” Ini konsekuensi dari sebuah pilihan.” lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. ” Aku ibunya!” serunya kemudian, ” Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif”. Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah Sekali lagi, saya tidak ingin membahas perbedaan sudut pandang pembagian tugas suami isteri. Hanya saja, sekiranya si kecil kita juga bergelayut : ” Mandikan aku, Bunda .” Akankah kita menolak ? Ataukah menunggu sampai terlambat ?




Sumber
Baca selengkapnya »
Kisah Nyata - Pengorbanan Adikku Membuatku Tak Berhenti Menangis

Kisah Nyata - Pengorbanan Adikku Membuatku Tak Berhenti Menangis

menangis karena pengorbanan adik
Kisah nyata berikut datang dari negeri Tirai Bambu, China, tentang pengorbanan luar biasa seorang adik kepada kakak perempuannya. Berikut kisahnya :

Aku adalah seorang gadis yang lahir besar di sebuah dusun terpencil di daerah pegunungan. Aku mempunyai seorang adik laki-laki yang umurnya tiga tahun dibawahku. Kami berasal dari keluarga yang bisa digolongkan miskin. Kedua orang tua kami setiap hari bekerja di ladang.

Suatu hari karena aku ingin sekali membeli manisan yang di jual di toko, aku nekad mencuri uang lima puluh sen yang di simpan di laci ayahku. namun ternyata Ayah menyadarinya, Ayah memanggil aku dan adik. Disuruhnya kami berlutut membelakangi tembok.

Dengan sebuah tongkat bambu di tangan ayah mulai bicara dengan nada agak keras, "Siapa yang mencuri uang ayah?"

Aku dan adik diam terpaku, tidak ada yang berani menjawab. Ayah makin naik pitam karena tidak ada yang mengaku.

"baiklah, kalo begitu kalian berdua layak untuk dipukul" bentak ayah sambil mengangkat tongkat bambu tinggi-tinggi. Tapi tiba-tiba adikku mencekram tangan Ayah sambil berkata, "Ayah, aku yang mengambil uang itu"

Bukan main marahnya Ayah mendengar jawaban adikku, dengan sekuat tenaga Ayah menghantamkan tongkat bambu itu bertubi-tubi ketubuh kecil adikku. Ayah baru berhenti ketika dia capek dan kehabisan napas. Lalu Ayah duduk di atas ranjang, sambil terengah-engah Ayah memarahi adikku, "Kamu masih kecil sudah berani mencuri ya! Mau jadi apa kalau sudah besar nanti! Kamu layak di pukul sampai mati. Dasar tidak tahu malu!"

Malam itu aku dan ibu menangis sambil memeluk tubuh adikku yang penuh luka-luka. Namun adikku tidak mengeluarkan air mata setetespun. Dan secara tiba-tiba tangisanku meledak karena iba melihat keadaan adikku. Tapi tangan kecil Adikku menutup mulutku sambil dia berkata, "Sudahlah Kak jangan menagis lagi. Semuanya sudah terjadi"

Bertahun-tahun sudah lewat, namun peristiwa itu selalu ku ingat, bahkan aku merasa peristiwa itu baru kemarin saja terjadi. Aku tidak akan pernah bisa lupa raut muka adikku ketika dia melindungiku. Satu hal yang aku sesalkan dan aku benci sampai sekarang, mengapa pada waktu itu aku tidak punya keberanian untuk mengakui perbuatanku. Saat itu adikku berumur 8 tahun dan aku 11 tahun.

Ketika lulus SMP, adikku ikut ujian masuk SMA di pusat Kabupaten, dan hasilnya ia lulus. Pada saat yang sama akupun di terima di Perguruan Tinggi Negeri Propinsi. Malam itu Ayah duduk di halaman rumah, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus habis Ayah hisap. Saya tahu Ayah sedang bingung saat itu.

Lalu Ayah berkata kepada Ibu duduk di sebelah, "kedua anak kita memberikan hasil yang baik....hasil yang baik......"

Ibu mengusap air mata di pipi sambil menghela napas, "Ya, tapi apa gunanya? Kita tidak akan sanggup membiayai sekolah keduanya sekaligus."

Adikku yang melihat kedua orang tuanya sedang bingung, tiba-tiba keluar rumah dan berdiri dihadapan Ayah.

"Ayah, aku tidak mau lagi melanjutkan sekolah, aku sudah cukup banyak membaca buku." demikian perkataan adikku di hadapan Ayah.

Mendengar itu, spontan Ayah menampar wajah adikku. lalu ia berkata, "Mengapa kamu mempuyai mental yang begitu keparat lemahnya! Kalupun harus menjadi pengemis di jalanan, aku akan melakukannya untuk menyekolahkan kalian berdua hingga selesai."

Aku segera mendekati adikku, lembut kuusap wajah adikku yang membengkak akibat tamparan Ayah, lalu ku katakan, "Anak laki-laki itu harus terus sekolah, kalau tidak, kita tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini. Aku telah memutuskan, tidak akan melanjutkan sekolah ke universitas."

Tapi sungguh di luar dugaan, keesokan harinya, sebelum subuh tiba, adikku pergi meninggalkan rumah hanya dengan membawa beberapa helai baju lusuh dan sedikit kacang kering sebagai bekalnya. Rupanya dia sempat masuk kamarkan dan meninggalkan selembar kertas berisi pesan : "Kak, masuk Universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimi Kakak uang."

Aku memegang erat-erat kertas tersebut di atas tempat tidurku. Aku menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Saat itu adikku berumur 17 tahun dan aku 20 tahun.

Tak terasa aku sudah berada di tahun ketiga kuliahku. Ini semua berkat usaha Ayahku yang meminjam uang dari seluruh penduduk kampung dan uang kiriman adikku dari hasil pekerjaannya sebagai kuli pengangkut semen. Sampai pada suatu hari ketika aku sedang belajar di kamar, teman sekamarku masuk dan memberitahu, "Ada seorang penduduk kampung mencarimu di luar sana."

Sambil bingung aku keluar kamar, siapa dan mengapa penduduk kampung mencariku? Ketika sampai di luar, aku mendapati Adikku sedang berdiri di sana. Tubuhnya kotor tertutupi debu semen dan pasir. Akupun heran dan bertanya padanya, "Mengapa tidak bilang pada temanku kalau kamu adalah adikku?"

Diapun menjawab sambil tersenyum, "Lihat penampilanku, mana mungkin aku akan membuat kamu malu dengan mengaku sebagai adik kepada temanmu. Mereka pasti akan mentertawakanmu!"

Aku terenyuh, mataku telah menganak sungai. Dengan tanganku  aku menyeka debu-debu di tubuhnya, dan dengan suara terbata-bata aku coba bicara, "aku tidak peduli omongan orang, kamu akan tetap jadi adikku, bagaimanapun penampilanmu."

Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah saputangan motif bunga-bunga yang indah, dan memberikannya padaku. Ia berkata, "Saya melihat semua gadis di kota membawa sapu tangan seperti ini, jadi saya pikir kakak juga harus memilikinya satu."

Aku tak kuasa lagi menahan diri, aku menarik adikku dan memeluknya. Aku menangis dan terus menangis dalam pelukannya. Saat itu adikku berumur 20 tahun dan aku 23 tahun.

Pada waktu pacarku datang kerumah untuk yang pertama kalinya, jendela rumah yang sudah bertahun-tahun tidak ada kacanya, tiba-tiba saja sudah terpasang kaca dengan rapi. Suasana rumahpun nampak bersih disetiap sudutnya.

Setelah pacarku pulang, aku menari-nari kegirangan seperti anak keci di depan Ibuku. Aku berkata, "Bu, sekarang Ibu tidak perlu membuang banyak waktu lagi untuk membersihkan rumah. Jendela sudah dipasangi kaca, debu tidak lagi banyak masuk kerumah."

Tapi sambil tersenyum Ibu berkata, "Itu Adikmu yang pulang kerja lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Kamu belum lihat luka di tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela itu."

Aku masuk kedalam kamar kecil adikku. Ketika melihat wajah kurusnya, terasa ratusan jarum menusukku. Ku tarik tangannya yang penuh luka,  kuoleskan saleb lalu ku balut dengan perban agar cepat membaik.

"Apakah ini sakit?" Aku bertanya padanya.

"Tidak, tidak sakit. Kakak tahu, waktu saya bekerja di lokasi bangunan, batu-batu berjatuhan menimpa kakiku setiap saat. Tapi itu tidak menghentikakku bekerja, dan ...." Sebelum adikku meneruskan ceritanya, aku segera membalikan tubuhku memunggunginya, aku menagis sesungukan. Deras air mata mengalir ke pipiku. Kala itu Adikku berumur 23 tahun dan Aku 26 tahun.

Ketika sudah menikah, aku tinggal di kota. Sudah terlalu sering aku dan suami mengajak kedua orang tuaku untuk tinggal bersama kami di kota., tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka bilang, di kota tidak ada pekerjaan yang dapat mereka lakukan. Adikku pun tidak setuju, dia mengatakan, "Jagalah mertua Kakak saja. Saya akan menjaga Ibu dan Ayah di sini."

Suamiku adalah direktur di sebuah pabrik. Aku dan suamiku telah sepakat untuk mengangkat Adikku menjadi manager di salah satu departemen pabrik tersebut. Namun Adikku menolak tawaran tersebut. Dia bersikeras ingin memulai pekerjaan dari bawah, yakni sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari Adikku sedang memperbaiki kabel listrik dan berdiri di atas tangga. Namun naas, adikku tersengat listrik, dan harus di rawat di rumah sakit.

Aku dan suami segera ke rumah sakit menjenguk Adikku. Di rumah sakit ku dapati Adikku sudah di baluti gips putih pada bagian kakinya. Akupun menggerutu padanya, "Lihat dirimu sekarang, luka yang begini serius. Ini karena kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya. Mengapa kamu menolak menjadi manager? Manager tidak pernah melakukan pekerjaan berbahaya seperti ini."

Dengan tampang serius, Adikku coba membela diri, "Pikirkan kakak ipar, dia baru saja di angkat jadi direktur. Kalau aku yang hampir tidak berpendidikan ini diangkat jadi manager, apa yang akan orang-orang bicarakan nanti?"

Suamiku menahan tangis, matanya di penuhi air mata.

Dengan terbata-bata aku coba berucap, "Kamu kurang pendidikan juga karena aku."

Adikku menggemgam tanganku dan berkata, "Mengapa kakak membicarakan masa lau."

Saat itu Adikku berumur 26 tahun, dan  Aku 29 tahun.

Pada usia 30 tahun Adikku menikahi seorang gadis anak petani dari dusun kami. Dalam acara pernikahannya si pembawa acara bertanya pada Adikku, "Siapa orang yang paling kamu hormati dan sayangi?"

Tanpa berfikir spontan Adikku menjawab, "Kakakku"

Lalu adikku mulai bercerita tentang sutu peristiwa yang aku sendiri bahkan sudah lupa peristiwa tersebut.

"Dulu waktu masih SD, tiap hari aku dan kakakku berjalan kaki selama dua jam untuk sampai ke sekolah. Sekolah kami letaknya jauh berada pada dusun yang berbeda dengan dusun kami. Saat itu sedang musim dingin, saat perjalanan pulang dari sekolah aku kehilangan satu sarung tanganku. Lalu Kakakku memberikan satu sarung tanggannya kepadaku. Dengan perjalan sejauh itu kakakku hanya mengenakan satu sarung tangan. Sesampainya di rumah, tangan kakakku gemetaran karena terlalu dingin, bahkan memegang sumpitpun tidak bisa lagi. Sejak hari itu saya bersumpah pada diri sendiri, selama saya masih hidup, saya akan selalu menjaga dan berbuat baik tehadapa kakakku."

Tak pelak lagi, semua pandangan mata orang yang ada di ruangan itu di arahkan padaku, dan tepuk tanganpun membahana dari setiap sudut ruangan.

Leherku terasa tercekat, kata-kata terasa begitu sulit keluar dari bibirku. Dengan gugup aku berkata, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterimakasih adalah Adikku."

Hari itu, di depan banyak orang, dan di moment bahagia Adikku,  airmataku bercucuran deras membasahi pipi. Saat itu umurku 33 tahun.
Baca selengkapnya »